Bagi investor pemula, membaca laporan keuangan yang rumit terkadang bisa membuat pusing. Sering kali kita mendengar istilah Price to Earnings (P/E) Ratio, namun bagaimana jika perusahaan tersebut belum mencetak laba? Di sinilah Price to Sales (P/S) Ratio menjadi sahabat terbaik Anda.
Apa Itu P/S Ratio (TTM)?
Price to Sales Ratio adalah metrik yang membandingkan harga pasar perusahaan dengan total pendapatan (omzet) selama setahun terakhir.
Istilah TTM (Trailing Twelve Months) merujuk pada data pendapatan dalam 12 bulan terakhir. Secara sederhana, P/S memberi tahu kita: “Berapa harga yang harus saya bayar untuk setiap Rp1 penjualan yang dihasilkan perusahaan?”
Rumusnya:
P/S Ratio = Harga Saham / Pendapatan per Saham (TTM)
Panduan Cepat: Berapa Angka P/S yang Murah atau Mahal?
Tidak ada angka sakti yang berlaku untuk semua perusahaan, namun secara umum, inilah gambaran kasarnya:
| Kategori P/S | Kondisi | Penjelasan |
|---|---|---|
| Di bawah 1 | Sangat Murah | Bisa jadi “harta karun”, namun harus waspada apakah bisnisnya memang sedang bermasalah. |
| 1 sampai 2 | Wajar / Layak | Angka standar untuk banyak bisnis yang stabil. |
| Di atas 4 | Mahal (Premium) | Pasar berekspektasi tinggi karena pertumbuhan bisnis yang sangat cepat. |
| Di atas 10 | Sangat Mahal | Anda membayar harga “masa depan”. Sangat berisiko jika pertumbuhan melambat. |
Karakteristik P/S Berdasarkan Sektor
Penting untuk diingat bahwa setiap sektor punya “watak” yang berbeda. Jangan membandingkan apel dengan jeruk!
- Sektor Ritel/Supermarket: Biasanya memiliki P/S kecil (di bawah 1) karena margin keuntungan mereka tipis, meski omzetnya besar.
- Sektor Teknologi/Software: Biasanya memiliki P/S tinggi (di atas 5) karena pasar membayar mahal untuk potensi pertumbuhan yang sangat cepat.
- Sektor Perbankan: P/S kurang cocok di sini. Bank tidak menghasilkan “penjualan” seperti toko. Investor lebih disarankan menggunakan Price to Book Value (PBV).
- Sektor Komoditas (Batubara, Sawit, Minyak): Biasanya memiliki P/S rendah (di bawah 1-1.5). Sektor ini sangat cyclical (naik-turun tergantung harga pasar dunia). P/S yang sangat rendah bisa jadi tanda harga komoditas sedang di puncak (hati-hati!).
- Sektor Properti: P/S bisa menipu karena pengakuan pendapatan dilakukan saat serah terima unit (lump sum). P/S bisa terlihat sangat murah di tahun serah terima, namun mahal di tahun-tahun pembangunan.
- Sektor Konsumsi (FMCG): Cenderung moderat (1.5 – 3). Bisnisnya stabil dan punya loyalitas pelanggan tinggi.
- Sektor Infrastruktur/Utilitas: Cenderung stabil di angka menengah (1 – 3) karena bisnisnya jangka panjang dan sangat dibutuhkan.
Tips Sebelum Membeli
- Bandingkan dengan Kompetitor: Selalu bandingkan P/S suatu saham dengan perusahaan lain di sektor yang sama.
- Lihat Tren Historis: Bandingkan P/S saat ini dengan rata-rata P/S perusahaan tersebut dalam 3–5 tahun terakhir. Jika jauh di bawah rata-rata, mungkin sedang “diskon”.
- Cek Kondisi Bisnis: P/S yang sangat murah (misal 0.2) bisa jadi tanda perusahaan sedang di ambang kebangkrutan. Selalu cek apakah perusahaan punya utang yang menumpuk.
- Jangan Hanya Satu Rasio: P/S adalah filter awal. Setelah menemukan angka yang menarik, tetap wajib mengecek kesehatan laba, utang, dan prospek bisnisnya.
Kesimpulan:
P/S Ratio adalah “timbangan” pertama yang sangat berguna untuk melihat apakah harga saham yang kita incar sudah masuk akal. Gunakan dengan bijak, sesuaikan dengan sektornya, dan jangan lupa lakukan riset lebih dalam!
Selamat berinvestasi dengan cerdas!


