Saat baru terjun ke dunia investasi saham, mungkin Anda sering melihat daftar istilah seperti PE Ratio, Price to Sales, atau EV to EBITDA. Bagi pemula, daftar ini bisa terlihat rumit, padahal fungsinya sangat sederhana: sebagai “alat ukur” untuk mengetahui apakah harga saham saat ini tergolong murah atau mahal.
Berikut adalah penjelasan ringkas dari daftar yang Anda bagikan:
1. PE Ratio (Price to Earnings Ratio)
Ini adalah rasio paling populer. Intinya, PE Ratio memberi tahu Anda berapa tahun yang dibutuhkan untuk balik modal jika keuntungan perusahaan tetap sama.
- Current PE Ratio (TTM/Annualised): Mengukur perbandingan harga saham saat ini dengan laba perusahaan selama 12 bulan terakhir.
- Forward PE Ratio: Menggunakan prediksi laba perusahaan di masa depan (biasanya 12 bulan ke depan).
- Catatan: Semakin kecil angka PE, biasanya dianggap semakin murah (namun tidak selalu, tetap perlu perhatikan kesehatan perusahaan).
2. Current Price to Sales (P/S Ratio)
Rasio ini membandingkan harga saham dengan pendapatan (penjualan) kotor perusahaan. Ini sangat berguna untuk menilai perusahaan yang labanya sedang turun atau perusahaan yang sedang tumbuh pesat namun belum mencetak banyak laba.
3. Current Price to Book Value (PBV)
Ini mengukur harga saham dibandingkan dengan kekayaan bersih (aset setelah dikurangi utang) perusahaan.
- Jika PBV di bawah 1, seringkali dianggap sahamnya sedang “diskon” karena harga pasarnya lebih rendah dari nilai aset fisiknya.
4. Price to Cashflow & Price to Free Cashflow (P/FCF)
- Price to Cashflow: Membandingkan harga dengan uang tunai yang dihasilkan operasional perusahaan.
- Price to Free Cashflow: Ini adalah indikator favorit banyak investor profesional. Free Cashflow adalah uang tunai “bersih” yang tersisa setelah perusahaan membayar semua operasional dan biaya investasi. Semakin rendah angkanya, semakin efisien perusahaan dalam menghasilkan uang tunai yang bisa dibagikan ke pemegang saham.
5. EV to EBITDA
- EV (Enterprise Value): Nilai total perusahaan (harga saham ditambah utang).
- EBITDA: Keuntungan perusahaan sebelum dikurangi bunga, pajak, dan penyusutan.
- Mengapa ini penting? Rasio ini lebih akurat karena memasukkan unsur utang. Jika perusahaan punya banyak utang, angka ini akan terlihat lebih tinggi dibanding hanya menggunakan PE Ratio saja.
Tips untuk Pemula:
Jangan pernah menggunakan satu rasio saja untuk memutuskan membeli saham. Gunakan daftar ini sebagai pembanding:
- Bandingkan dengan kompetitor: Apakah perusahaan A jauh lebih mahal dibanding perusahaan B di sektor yang sama?
- Bandingkan dengan sejarah: Apakah rasio saat ini lebih tinggi atau lebih rendah dari rata-rata rasio perusahaan tersebut selama 5 tahun terakhir?
Investasi saham bukan sekadar menebak harga, tapi memahami nilai. Dengan mempelajari rasio-rasio ini, Anda tidak lagi sekadar “ikut-ikutan” membeli saham, melainkan menjadi investor yang tahu apa yang Anda beli.
Semoga penjelasan ini membantu Anda dalam perjalanan investasi Anda!


